Triwiningsi Anamakka: Perempuan dalam Penjara Patriarki

Triwiningsi Anamakka, Ketua GMKI Salatiga

INDNEWS.ID-Perempuan dan Patriarki-Secara Epistimolgi kata Perempuan berasal dari kata Empuan yang berarti wanita, istri raja. Jika diteliti lebih jauh, kata empuan berasal dari kata dasar empu yang bermakna gelar kehormatan atau orang ahli dan puan yang berarti nyonya keperempuanan. Kata perempuan tentu saja tidak berarti wanita tetapi juga berarti tuan, ibu, nyonya yang harus dihormati. Dengan kata Perempuan berarti yang diper-empu-kan (yang dihormati dan dipertuankan). Artinya dalam ranah kesetaraan gender yang tengah digaungkan, perempuan telah menempati dan ditempatkan pada posisi yang seimbang (Poerwadarminta 1986: 270-272).

Dalam Perjalananya muncul sebuah istila yang disebut Femenisme. Bicara soal femenisme bukanlah suatu kata yang diasumsikan bahwa kata itu merupakan sebuah pemberontakan kepada laki-laki terhadap struktur budaya yang ada dalam masyarakat khususnya budaya patriarki, kita tidak sedang menghancurkan laki-laki atau menjadi musuhnya. Akan tetapi hal substansial yang hendaknya disadari dalam pikiran kita adalah bagaimana mendongkrak cara pikir atau konsturksi masayarakat dan menghancurkan ketidakadilan dan diskriminasi yang ditumbulkan oleh situasi tersebut.

Pada prinsipnya, teori femenis bersifat ilmiah dan politis. Titik tolaknya adalah kesadaran akan ketidakadilan dan menolak sekaligus mengubah masyarakat patriarki demi memperoleh keadilan. Kesadaran akan gender dan teorinya akan mencakup segi konseptual,empiris,normatif, dan metodologis sebagai suatu paradigma femenis.

Sedangkan istilah patriarki secara harifiah berarti kekuasan bapak/laki-laki/patriark. Mulanya kata ini digunakan untuk menyebut suatu jenis keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki, yaitu rumah tangga besar patriarki yang terdiri dari kaum perempuan,laki-laki muda, anak muda, budak dan pelayan rumah tangga, yang semuanya berada dibawah kekuasaan sang laki-laki penguasa itu. Hingga kini makna kata patriarki secara umum dimaknai sebagai kekuasaan laki-laki, suatu hubungan kuasa dengan apa laki-laki menguasai perempuan, dan untuk menyebut sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai melalui bermacam-macam cara (Jerda 2012: 25-26).

Dalam konteks sosial budaya tatanan kehidupan patriarki adalah kehidupan sebuah keluarga dibawah kekuasaan laki-laki. Laki-laki akan menjadi kepala rumah tangga, oleh karenanya anak laki-laki sering dinobatkan sebagai penerus keturunan dalam keluarga dan menjadi pewaris segala sesuatu yang dimiliki oleh orang tuanya sehingga kehadiran anak laki-laki menjadi sangat penting dalam sebuah perkawinan. Perbedaan gender ini kemudian menyebabkan ketidakadilan tersebut menjadi sangat nyata dalam kehidupan sosial Budaya tertentu.

Partisipasi Perempuan dalam budaya Patriarki
Semenjak dideklarasikannya tanggal 08 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1977, telah memberikan kontribusi besar dalam memperkuat gerakan Partisipasi Perempuan. Tanggal 08 Maret menjadi titik pijak dari sejarah panjang gerakan perempuan. Khususnya gerakan perempuan pekerja (perempuan buruh) untuk mengorganisasikan diri dan memperjuangkan hak-haknya.

Dalam konteks Indonesia, Gerakan kebangkitan Perempuan telah terjewantahkan sejak seorang Pahlawan Perempuan R.A. Kartini menyatakan dirinya dalam memperjuangkan pendidikan Perempuan. Gerakan ini kemudian dirayakan setiap tangal 21 April sebagai Hari Kartini yang beberapa pekan lagi akan kita rayakan bersama.

Perayaan Hari Kartini menjadi momentum bersejarah yang dapat memberikan refleksi besar bagi Masrakat Indonesia secara khusunya Perempuan untuk menemukan sejauh mana Perempuan sadar akan keberadaan diri dan berpartisipasinya dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan Bernegara dengan menjunjung tinggi Nilai Kestaraan, saling menghormati, saling mendukung, dan saling menjaga kebebasannya sebagai manusia.

Berangkat dari ini, muncul pertanyaan dibenak kita akan seperti apakah Perempuan ketika berhadapan dengan realitas perlakuan seperti ini?. Apakah perempuan harus diam dan pasarah pada kenyataan?. Tentu tidaklah demikian, sebagai perempuan harus menyadari dirinya sebagai manusia utuh. Artinya ia harus bangkit untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah mahluk lemah dan tak berdaya.

Kesadaran ini akan semakin menyata ketika Perempuan berani mengambil sebuah tindakan yang tentu tidak mengkerdilkan dirinya sebagai Perempuan. Bahwa ia adalah mahkluk yang utuh yang secara bebas turut mengambil bagian dalam berbagai kehidupan yang didominasi oleh laki-laki. Kesadaran seperti ini secara perlahan dapat menepis pandangan masyarakat yang cenderung mendewakan maskulinitas sebagai yang lebih berkualitas dalam masyarakat.

Hal lainnya jika dibawa dalam konteks kekristenan, terdapat sebuah pernyataan solidaritas dunia terhadap kaum wanita melalui dekade oikoumenis. Kehadiran gereja yang pada dasarnya bertujuan memberdayakan kaum perempuan agar mampu berperan aktif dalam gereja dan masyarakat sekaligus memperbaiki ketidak seimbangan peran antara perempuan dan laki-laki haruslah terus diperjuangkan.

Munculnya gerakan femenis sebagaimana disebutkan sebelumnya bertujuan untuk mengkritik struktur patriarki dalam masyarakat. Gerakan ini dijalankan melalui proses penyadaran dan perubahan yang ada akibat perbedaan yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Perubahan tersebut dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil, seimbang dan setara (Suenita 2004: 52-53).

Melalui momentum Hari Perempuan Internasional kita dapat merasakan bahwa dunia sejak sedia kala hingga saat ini telah melihat ketimpangan pada ranah gender atas kedudukan laki-laki dan Perempuan. Sederhananya bahwa kaum perempuan dimasa itu telah berusaha untuk memperjuangkan hak-haknya dalam memperoleh kesejahtraan yang sama dan setara. Mestinya demikianlah berjuang. Sebelum terlampaui jauh, memberi kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya pemahaman kesetaraan, maka terlebih dahulu perempuan menyadari keberadaannya, eksistensi dalam masyarakat dan fungsinya sebagai perempuan.

Mengakhiri catatan ini, saya ingin menyampaikan bahwa kesadaran laki-laki dan perempuan menjadi kekuatan untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan manusia karena laki-laki dan perempuan merupakan ciptaan yang segambar dengan rupa Tuhan. Mereka hidup saling membutuhkan dan bahwa manusia adalah laki-laki dan perempuan. Patriarki akan berakhir jikalau semua kita menyadari akan keberadaan dan fungsi kita sebagai laki-laki dan Perempuan.

Begitu pula kita sebagai warga Negara Indonesia yang berasaskan pada Demokrasi, Perempuan memiliki kekuatan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana adanya. Sifat keindonesian yang plural mesti dijadikan sebagai dasar pijak dalam memperjuangkan kesetaraan di negara ini. Bahwa semua manusia baik laki-laki, maupun perempuan adalah sama di mata Negara. Perempuan memiliki kebebasan memilih tindakan apa yang dibuatnya untuk memperjuangkan haknya sebagai perempuan dengan terus menjunjung tinggi nilai menghormati dan mengakui laki-laki sebagai mahluk yang setara dengan dirinya. Demikian pula sebaliknya.

Selamat Merayakan Hari Perempuan Internasional. Biarlah semua menjadi satu adanya.

Penulis: Triwiningsi Anamakka (Ketua Cabang GMKI Salatiga Masa Bakti 2019-2020)

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Korban Covid-19 Semakin Meningkat, GMKI Pematangsiantar-Simalungun Produksi Hand Sanitizer untuk Masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *