Semangat Mengejar Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19 ǀ Antara Ekspektasi dan Realita

Jerri Simanjuntak (Sekretaris GMKI Cabang Bengkulu)

Opini Dalam makalah “Pendidikan Dunia dan Indonesia” karya Nia Kuriawati mengatakan bahwa pendidikan berasal dalam bahasa Yunani “padegogik” yaitu ilmu menuntun anak. Orang Romawi melihat pendidikan sebagai “educare, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia.

Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai “Erziehung yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti “panggulawentah, yaitu untuk mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu untuk memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian, yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, serta cara mendidik.

Tanggal 02 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasioal melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 yang dikeluarkan pada tanggal 16 Desember 1959. Keppres tersebut dikeluarkan atas penghargaan kepada Tokoh Nasional Bapak Ki Hadjar Dewantara. Saat itu merupakan tanggal lahir beliau.

Ki Hadjar Dewantara atau nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat berperan penting dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Ia mendirikan Perguruan Taman Siswa yang menjadi tempat bagi penduduk pribumi biasa untuk dapat menikmati pendidikan yang sama dengan orang-orang dari kasta yang lebih tinggi. Hal ini karena pada masa penjajahan Belanda, pendidikan adalah hal yang sangat langka dan hanya untuk orang terpandang (keluarga priyayi) dan orang asli Belanda yang diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan.

Beliau juga terkenal dengan tulisannya yang menyebabkan beliau sering terlibat dalam masalah dengan Belanda. Hal tersebut terjadi karena tulisan-tulisannya yang tajam yang ditujukan untuk mengkritik pihak Belanda. Tulisannya yang terkenal adalah “Als Ik Eens Nederlander Was” yang berarti “Seandainya Saya Orang Belanda”. Beliau pun akhirnya diasingkan ke Pulau Bangka oleh pihak Belanda.

Tut Wuri Handayani merupakan semboyan pendidikan menurut K.H Dewantara yang berarti di Belakang Sebagai Pemberi Dorongan.

Ki Hadjar Dewantara dikenal dengan slogannya yang luar biasa. Slogan yang diciptakannya menggunakan Bahasa Jawa, yakni “Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Slogan tersebut berarti sebagai berikut “Di Depan menjadi Contoh atau Panutan, Di Tengah Berbuat Keseimbangan atau Penjalaran, dan Di Belakang Membuat Dorongan atau Mendorong”.

Semboyan tersebut menciptakan semangat berpendidikan yang tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban bagi guru-guru di Indonesia untuk meneledani sosok Bapak Pendidikan Nasional yang telah memberi dampak positif terhadap bangsa Indonesia.

Hal ini karena di tangan para gurulah nasib para penerus generasi bangsa dan tanggung jawab kemajuan pendidikan di Indonesia. Pastinya guru harus berkontribusi dalam hal positif dan ikut serta menyalurkan kemampuan di dalam bidang pendidikan seoptimal mungkin.

Perayaan Hari Pendidikan Nasional
Walaupun bukan hari libur nasional, tetapi Hari Pendidikan Nasional dirayakan secara luas di Indonesia. Perayaan ini biasanya ditandai dengan penyelanggaraan upacara bendera di sekolah-sekolah dan perguruang tinggi. Upacara peringatan tersebut dilakukan dari tingkat kecamatan hingga pusat yang disertai dengan penyampaian pidato bertema pendidikan oleh pejabat terkait. 

Makna Hari Pendidikan Nasional
Hari Pendidikan Nasional dapat dimaknai bahwa pendidikan sangatlah penting. Kemudahan dalam menempuh jenjang pendidikan yang saat ini diharapkan bagi generasi muda. Siswa dan pelajar dapat memanfaatkannya untuk menimba ilmu yang setinggi-tingginya.

Dalam rangka membantu para pelajar lebih memahami makna Hari Pendidikan Nasional, maka sekolah-sekolah atau institusi pendidikan mengadakan upacara untuk mengenang para pahlawan yang berjuang demi kemajuan pendidikan Indonesia. Hal ini diharapkan dapat mengingat perjuangan para pahlawan pendidikan dan lebih menghargai serta memanfaatkan fasilitas pendidikan yang ada saat ini untuk mencari ilmu setinggi-tingginya.

Pendidikan Pertama adalah Dimulai dari Keluarga.!!!

“Pendidikan adalah Investasi terbesar kita di masa depan, di mana jaminan masa depan ditentukan oleh gigih dan tekunnya kita saat menjalani pendidikan baik formal maupun non-formal dimasa sekarang”

 Saya meyakini benar bagaimana karakter seseorang itu haruslah dimulai dari tatanan keluarga, maka segala bentuk aktivitas dan perilaku diluar adalah cerminan dari keluarga. Disinilah peran orangtua dalam mendidik dan memberikan pemahaman kepada anak sejak dini sebelum anak beranjak kepada pendidikan formal. Dalam Buku “Educating For Character: Mendidik Untuk Membentuk Karakter” karya Thomas Lickona dan Juma Abdu Wamaungo mengatakan Pembangunan karakter bangsa yang menjadi salah satu perhatian kuat, sepatutnya disambut dan dirumuskan dengan langkah-langkah sistematis dan secara komperehensif untuk implementasinya dalam dunia pendidikan.

Pendidikan karakter ibarat mengukir dan memberikan sentuhan agar objek yang diukir memiliki nilai lebih. Sebuah ukiran dipastikan bernilai lebih daripada objek yang diukur itu sendiri. Di dalam karakter ada nilai inti yang berasal dari budaya, dan oleh karena itu kita tidak mungkin membangun karakter yang terlepas dari budaya kita sendiri.

Jika karakter itu merupakan refleksi budaya yang bersifat lintas generasi maka pendidikan alih generasi harus dilakukan sejak sekarang, dan sebaik-baiknya bekal yang diberikan bagi generasi mendatang adalah pendidikan karakter. Karakter menjadi variabel yang membuat ilmu pengetahuan dan teknologi membawa kesuksesan dan kemaslahatan bagi seluruh manusia.

Bagaimana Nasib Pendidikan Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19 ini?
Pasca bulan Maret lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia yaitu di daerah Jawa. Kemudian virus ini begitu cepat menular yang mengakibatkan orang-orang yang pernah kontak langsung dengan korban pun ikut tertular. Kemudian keluar kebijakan Pemerintah Pusat yang diturunkan ke Pemerintah Daerah bahwa untuk memotong rantai penyebaran virus ini, sekolah dan perguruan tinggi akan diliburkan hingga batas waktu yang ditentukan. Surat tersebut akan direvisi ketika sudah jatuh tempo dan kebijakan dilanjutkan kembali ketika keadaan belum stabil.

Terhitung dari Maret hingga 29 Mei, kebijakan Pemerintah berlaku meliburkan sekolah dan perguruan tinggi atas bencana non-alam ini. Untuk mengatasi kebijakan tersebut, pihak-pihak sekolah dan perguruan tinggi melakukan sistem pembelajaran melalui daring atau kuliah online.

Dalam menjalankan pembelajran online ini, Menteri Pendidikan Indonesia Nadiem Makarim memberikan arahan kepada dosen dan guru-guru tenaga pengajar supaya tidak memberikan tugas yang begitu banyak kepada anak didik. Hal ini didasari karena akan memberatkan pikiran dan otak pelajar tesebut.

Namun, data di lapangan berbeda dengan apa yang sampaikan Nadiem. Mahasiswa dan pelajar banyak mengeluh dengan tumpukan tugas yang diperoleh mereka. Keterbatasan jaringan internet dan penggunaan teknologi yang terbatas, biaya jaringan internet yang boros dan lain sebagainya menjadi keluhan utama.

Menurut riset Hootsuite, pengguna internet di Indonesia mencapai 64% dari total populasi keseluruhan, atau setara dengan 175 juta jiwa tahun ini. Diprediksi menempati posisi ketiga terbesar di dunia dalam penggunaan perangkat mobile. Tetapi tetap saja masalah pendidikan yang timpang ini masih terus terjadi di Indonesia sampai saat ini, terutama untuk pendidikan daerah 3T. Ini yang menjadi masalah utama dalam sistem pendidikan kita.

Pada akhirnya saya tertarik kepada guru-guru di pedesaan yang melakukan proses belajar-mengajar dengan mendatangi rumah-rumah siswa untuk bertatap muka. meskipun satu kali dalam seminggu. Saya begitu apresiasi akan hal itu, tentu itu sendirilah yang menjadi tantangan guru ketika tidak bisa melaksanakan pembelajaran di dalam ruang insklusif bagi pelajar.

Yang mau dipertahankan adalah karakter dan proses ingatan agar siswa tidak lalai proses pembelajaran. Bukan dengan tumpukan tugas yang belum layak diterima otak dan pikiran.

Pandemi Covid-19 ini banyak memberikan kita pelajaran betapa berharganya kehidupan yang meliputi aspek waktu, kesehatan dan pendidikan. Berusaha untuk memanusiakan manusia ditengah-tengah kondisi pandemi ini. Semoga pandemi ini cepat berlalu sehingga proses belajar mengajar dapat optimal kembali.

Selamat merefleksikan Hari Pendidikan Nasional di tengah pandemi Covid-19 ini. Saya berharap musibah ini tidak mengurangi semangat juang pelajar dan mahasiswa dalam menggapai cita-citanya. Semangat dan tetap berinovasi untuk negeri…

Pendidikan diartikan sebagai suatu upaya dalam memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf yang insani. “Driyarkara”

Ut Omnes Unum Sint..

Penulis: Jerri Simanjuntak (Sekretaris GMKI Cabang Bengkulu)

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Pandemi Covid-19 dan Tanggung Jawab Negara dalam Perspektif Keuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *