Rara Jonggrang dan Gereja Santo Joseph

INDNEWS.ID-Bagi yang pernah mendengar kisah Rara Jonggrang, pasti akan langsung terbayang tentang hikayat terciptanya kompleks Candi Sewu, Candi Prambanan, dan lain-lain. Alkisah karena rasa cinta pangeran Bandung Bondowoso kepada putri Rara Jonggrang yang begitu besar, sehingga syarat berat untuk melamar sang putri akhirnya disanggupinya. “Dalam waktu semalam engkau harus membangun seribu candi untukku”, pinta sang putri. Untuk mewujudkan permintaan putri Rara Jonggrang, sang pangeran meminta bala bantuan kaum jin dan dedemit.

Namun akhirnya Bandung Bondowoso gagal mencapai targetnya, karena Rara Jonggrang mengkondisikan situasi seakan-akan fajar telah menyingsing dan batas waktu telah habis. Tapi seperti yang kita lihat di situs purbakala Candi Sewu bahwa Bandung Bondowoso tidak benar-benar gagal. Dalam semalam dia berhasil menciptakan mahakarya luar biasa. Walau ini hanya cerita rakyat tapi banyak pesan yang dapat kita petik dari dalamnya.

***
Di awal tahun 2020, banyak kasus intoleransi yang mewarnai pemberitaan dalam negeri. Semisal penyerangan sekelompok pemuda terhadap Balai Pertemuan yang biasa dijadikan tempat shalat di Perumahan Agape Minahasa Utara, juga persekusi sekelompok masyarakat terhadap upaya renovasi bangunan Gereja Katolik Santo Joseph di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Segala upaya telah dilakukan untuk menjaga kebebasan beribadah dan beragama di Republik ini, tetapi tantangan juga datang silih berganti. Daftar panjang diskriminasi peribadatan telah menjadi PR tak terselesaikan oleh pemerintah.

Kadang kebijakan-kebijakan sepotong yang diambil oleh pemerintah menjadikannya terlihat jauh dari kata keadilan. Standar ganda pemerintah mendatangkan prasangka dari masyarakat bahwa ada tendensi subjektif yang dipakai oleh aparat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang pada akhirnya memperhadapkan potensi konflik horizontal. Respon cepat Menteri Agama terhadap kasus di Minahasa Utara tidak diperlihatkan pada kasus di Tanjung Balai Karimun. Padahal Gereja Katolik Santo Joseph telah memiliki IMB yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten, juga perintah Presiden supaya kelompok intoleran yang mempersekusi gereja dan imam gereja agar segera ditindak. Namun eksekusi lapangan terkesan berbeda, yang satunya begitu lambat dan yang lain sangatlah cepat.

Perusakan balai pertemuan di Minahasa Utara itu terjadi pada Rabu 29 Januari 2020, malam. Dan hari Minggu kemarin, 16 Februari 2020, telah dikumandangkan azan untuk pertama kalinya dari tempat yang sama, yang telah berganti nama menjadi Masjid al-Hidayah Desa Tumaluntung Minahasa Utara. Cuma butuh waktu tidak sampai sebulan memproses tempat tersebut menjadi sebuah masjid yang layak untuk dipakai beribadah. Secercah harapan untuk mengubur intoleransi dan diskriminasi di bumi Indonesia mulai muncul. Para pemuka agama disaksikan pemerintah daerah mensyukurinya dengan mengadakan pertemuan untuk mengikat kembali tali silaturahmi.

Namun situasi di Tanjung Balai Karimun tidak sekilat di Minahasa Utara. Perkembangan terakhir bahwa Romesko Purba dikriminalisasikan dengan berbagai tuduhan untuk mencegah upaya perlawanan hukum pihak gereja. Masih banyak langkah-langkah melelahkan yang akan ditempuh oleh warga Gereja Santo Joseph sampai dapat menikmati peribadatan yang khusuk di gedung gereja mereka yang baru, yang telah dibangun sejak tahun 1928, sebelum republik berdiri.

Situasi ini mengingatkan kita tentang kesaktian Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam waktu semalam. Bantuan jin dan dedemit mejadikan tugas Bandung Bondowoso tidak berat. Seandainya saja Bandung Bondowoso juga dapat membantu Romesko Purba untuk menyegerakan pembangunan Gereja Katolik Santo Joseph. Apalagi sebentar lagi paskah. Mau ada teatrikal via dolorosa oleh para pemuda. Yang jelasnya tak boleh ada campur tangan jin dan dedemit, karena pasti mereka tak akan tahan berlama-lama berada di sekitar gereja. Namun apakah Bandung Bondowoso mampu tanpa bantuan jin dan dedemit? Ah sudahlah…

Penulis: Alan Christian Singkali

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Dinilai Provokasi, GMKI PSS: Ketua KNPI Siantar Tidak Mengerti Toleransi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *