Piki Pardede: Johannes Leimena, GMKI dan Dimensi keIndonesiaan

INDNEWS.ID-Om jo, begitu dia (Johannes Leimena) dikenal, sosok negarawan sejati yang memiliki peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Secara pribadi saya tidak memiliki hubungan emosional bersamanya, namun nama itu kian kokoh dalam ingatan saya dan semua kader-kader organisasi kristen dengan berbagai pandangan dan jalan pikiran yang sulit dipahami. Nama besar itu saya kenal saat menjadi bagian dalam organisasi yang Dia bidani, tokoh pergerakan nasional pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Perio 1928 Waktu itu, beliau sudah punya nama besar. Intelektual muda wataknya yang sabar menjadikannya ‘negosiator alamiah’ Kejujurannya juga dikenal luas sehingga orang-orang percaya dia tidak pernah bohong atau menggertak, dan seorang solidarity maker yang mampu menghimpun semua perbedaan dalam sebuah lingkaran pergerakan pemuda nasional. Bersama beberapa tokoh nasional lainnya,  kemudian berkenalan dengan Mohammad Yamin, Amir Syarifudin, Probowinoto,  dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Pada saat itu Amir syarifuddin dari nyong Batak, bersama Leimena dari nyong Ambon merupakan tokoh berpengaruh kala itu.

Keduanya banyak terlibat dalam diskusi-diskusi Alkitab sekaligus berdiskusi tentang situasi  konteks (nasional) yang dihadapi dan dalam diskusi-diskusi prakemerdekaan dengan mendorong umat Kristen agar aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di organisasi Christian Studenten Vereniging (CSV) pada 1926, yang menjadi cikal bakal dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang merupakan tempat bertemunya para mahasiswa Kristen saat itu.

Johannes leimena juga merupakan seorang kepercayaan Ir. Soekarno, sejak peristiwa Lengkong 1946, dimana peristiwa yang menyebabkan puluhan perwira gugur. Saat itu jo telah menjadi seorang dokter dan alumni STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra dan Geneeskunde Hogeschool (Sekolah Lanjutan Kedokteran), sejak saat itu Soekarno dan Jo menjadi dekat seperti sahabat lama.

Soekarno mulai tertarik dengan gaya dan kepribadian jo saat menjadi pelopor pada Kongres Pemuda 1928. Saat setelah itu Leimena menjadi orang kepercayaan Soekarno dengan menunjuknya sebagai delegasi Indonesia untuk berunding dengan Belanda dalam rangka persiapan menuju perundingan Renville, Sampai-sampai Presiden Sukarno menyebut Leimena sebagai “orang paling jujur yang pernah kutemui”. Bahkan, Sukarno dalam kesempatan lain menyebutnya mijn dominee yang artinya “pendetaku”.

Johannes leimena merupakan diplomat andal, decision making, menteri terlama sepanjang sejarah Republik, pendiri organisasi kemahasiswaan, tokoh gereja, dan intelektual di masanya. Sehingga Mohammad Roem kala menjadi Menteri Dalam Negeri pada saat itu juga mengakui jo sebagai diplomat militer bertampang pendeta (dominee).

70 Tahun GMKI

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) saat ini genap berusia 70 Tahun (9 februari 1950-9 februari 2020), bukan usia yang muda lagi bagi sebuah organisasi dimana dimasa masa pra kemerdekaan yang diawali CSV Of Java hingga era reformasi sekarang ini GMKI tetap menjaga konsistensi dalam kegerakanya. Di sekitar awal tahun 1920-an pergerakan Kristen memperoleh spirit yang sangat kuat berkat kehadiran seorang aktivist NSCV (Nederlandsche Christen Studenten Vereniging) dari Belanda, yaitu C.L.van Doorn seorang mahasiswa kedokteran, bersama leimena sekaligus pemuda Jong Ambon yang di kemudian hari sangat berjasa baik dalam pergerakan oikumenis (kekristenan) maupun nasionalisme Indonesia. Dari sinilah, van Doorn dan Om Jo melampaui gerakan kedaerahannya dan terlibat secara intensif dalam gerakan-gerakan oikumene.

GMKI lahir bukan secara kebetulan, atau hanya sebagai langkah menyambut kemerdekaan RI, namun GMKI sebagai suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya. Dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari iman dan roh, ia berdiri di tengah dua proklamasi: Proklamasi Kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injilnya, ialah Injil Kehidupan, Kematian dan Kebangkitan”. Begitulah leimena menyebutnya.

Sebagai seorang dokter yang juga membidani Organisasi kekristenan, beliau memberi penegasan kepada mahasiswa kristen bahwa GMKI adalah tempat untuk menggembleng diri pribadi (perwujudan Tripanji GMKI), supaya kuat terlatih, dan tangkas dalam semua medan. Khususnya dalam konteks kekristenan dan keindonesiaan. Lalu apa relevansinya dengan Leimena diatas? Tentu meski tak langsung, ada tautan tentang komitmen antara dimensi kekristenan dan keIndonesiaan dari keduanya.

Secara metaforis dalam diri gmki dan mahasiswa harus tersemat dan terserap nilai-nilai nasionalis dan oikumenis yang menjadi ruh dalam setiap kegerakannya tri panji (tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian) senantiasa mencengkram kuat nilai kekristenan dan nilai keindonesia artinya meski memliki keragaman etnik agama dan bahasa yang paling kaya sekaligus problematik didunia kita tetaplah satu dalam persaudaraan hang menghidupkan.

Dimensi keindonesiaan (nasionalisme) dan kemahasiswaan (intelektual) yang mengakar dalam diri GMKI dan mahasiswa menjadi prinsip dalam membangun gerakan. Inilah gagasan kebangsaannya salah satu melalui goresan tangannya yang berjudul “Kewarganegaraan yang Bertanggungjawab” (1955).

Melihat interaksi yang panjang antara GMKI dan Bangsa Indonesia inilah yang membuat Organisasi ini memperoleh banyak tantangan dan ujian, tapi mampu bertahan hingga hari ini. Sebagai organisasi kader, organisasi moral dan evangelisasi, GMKI senantiasa diperhadapkan pada sebuah tantangan lingkungan yang kerap kali tidak kita manfaatkan sebagai peluang yang cukup strategis dalam sebuah pelayanan dan persekutuan kita umat kristen. Kita lebih condong terlibat permasalahan dan fenomena lingkungan yang sifatnya reaksioner.

Di usia yang menua, beban sejarah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sebagai salah satu bagian dari integral bangsa ini tidak selalu berakhir “sukses story” , tidak jarang masih banyak terjadi disorientasi dalam menjalankan fungsi organisasi, sudah seharusnya GMKI mereposisi diri, meninggalkan ke eklusifannya dan kembali menunjukkan kepeduliannya sebagai taruk bagi bangsa.

Bila GMKI sebagai Taruk, maka stem kadernya pasti akan berakar dan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Pasti kadernya akan menjadi solusi bagi krisis bangsa ini. Pasti kadernya akan memberi jalan keluar dari berbagai problematik bangsa. Pasti kadernya bukan kader karbitan dan apalagi dapat dibeli. Pasti kadernya menjadi Harapan bagi Masyarakat Indonesia, sebagaimana yang diingatkan oleh Leimena.

Jika kita melihat historis gerak GMKI tentunya ada perbedaan antara GMKI masa lalu dan GMKI masa kini. Mahasiswa yang kini lebih asik berkonsentrasi bagaimana menuju sebuah prestise dan terjebak dalam lingkungan kekuasaan dan politik praktis yang menjadi agenda-agenda elit kuasa. GMKI terseret pada arus besar kekuasaan. Asyik berebut rimah-rimah pembangunan.

Seharusnya GMKI sebagai pusat latihan kader (leerschool) dengan demikian adalah suatu proses purifikasi, sebagai tempat penjernihan, sebagai pihak yang mengingatkan, sebagai pihak pendobrak, sebagai pelopor (avangarde) ketika negara atau pemerintah telah nyata-nyata melenceng dari janjinya kepada rakyat.

Mahasiswa adalah kekuataan rakyat yang independen, kekuataan yang terbuka, yang menjadi tumpuan bagi seluruh rakyat Indonesia. Disanalah hendaknya Panji GMKI berkibar menjadi lokomotif yang sejati, menyeret gerbong kebaikan bagi seluruh mahasiswa Indonesia. Jika GMKI tidak berbenah, Kita akan melihat bahwa ada degradasi nilai-nilai luhur dalam pelayanan GMKI.

GMKI harus terus berupaya keras dalam Meningkatkan Integritas dan Loyalitas Kader untuk Mewujudkan Tri Panji serta Visi-Misi GMKI, namun memiliki tujuan/sasaran dengan tetap bersandar pada Alkitab, maka para kader harus memiliki pemahaman, Bahwa GMKI harus menjadi taruk yang bertumbuh dan berbuah bagi pribadi, keluarga, gereja, kampus, lingkungan dan bangsa Indonesia. Karna inilah Om Jo dikenal sebagai pendiri dasar teologi politik Indonesia. Pernyataannya: ‘Politik bukan alat kekuasaan, tetapi etika untuk melayani’, perlu dijadikan rujukan untuk melihat bagaimana kehidupan politik bangsa ini dikembangkan.

Tantangan Membangun Indonesia

Tantangan membangun Indonesia sangat berat dibalik masih lemahnya oknum organisatoris dalam memantapkan kedirian GMKI, diusia ke 70 tahun refleksi membangun sumber daya GMKI tentu menjadi Momentum yang tepat, tatkala bangsa kita berada di puncak bonus demografi, akan terjadi antara tahun 2020 hingga 2024. Bonus demografi akan menjadi bonus lompatan kemajuan jika disiapkan dengan pola kaderasi yang baik dan benar.

GMKI harus benar-benar responsif dan adaptif dalam mencetak SDM yang kompetitif dan memiliki spiritualitas yang tinggi, integritas yang tinggi dan propesionalitas yang tinggi dengan karakteristik jujur, kolaboratif, solutif, sekaligus memiliki leadership dan enterpreunership. Selain itu tentu saja kompetitif dalam penguasaan akademis.

Secara nasional pemantapan sistem pendidikan kader harus dibarengi dengan pola implementatif yang konsisten. GMKI secara kuantitatif adalah produsen terbesar dalam membina kader-kadernya. GMKI adalah organisasi mahasiswa yang memiliki jenjang perkaderan yang terstruktur, sistematis dan massif. Dalam membangun SDM yang kompetitif itulah GMKI perlu berperan.

Sebagai sepujuk taruk GMKI harus terus bertumbuh dan berkembang dibalik lilitan masalah internal dan eksternal, tapi saya yakin GMKI dapat bertahan sebagai sepucuk taruk yang kokoh dan perkasa di Indonesia, jika dibarengi  kemampuan analisis tidak cuma diinternal tapi juga di eksternal hingga global, dibalik pusaran kapitalisme Global dan neoliberalisme. Disitulah GMKI juga berperan dalam mempersiapkan kadernya yang ahli dan bertanggungjawab untuk didistribusikan dalam mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.

Selamat Dies Natalis GMKI yang ke 70, Ut Omnes Unum Sint.

Penulis: Piki Darma Kristian Pardede, M.Si.

  • Badan Pengurus Cabang GMKI Medan periode 2017-2019
  • Peneliti Centre for Public Policy and Governance Studies

 

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Tidak Miliki Alat Deteksi, GMKI Ingatkan Pemprov Sumut Antisipasi Penyebaran Coronavirus

2 thoughts on “Piki Pardede: Johannes Leimena, GMKI dan Dimensi keIndonesiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *