Pedoman Kehidupan: Egoisme Manusia dalam Relasi dengan Tuhan, Manusia dan Alam

Opini-Manusia pada hakekatnya menyadari bahwa kehidupan tercipta karena adanya keseimbangan. Keseimbangan yang dimaksud tidak terletak pada pola relasi diantara manusia, juga tidak bergantung pada hubungan ekonomi ataupun segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia. Melainkan keseimbangan yang tercipta karena adanya hubungan antara Manusia, Tuhan, dan Alam.

Pada waktu SMP kita sudah pernah diajarkan pelajaran Biologi mengenai siklus makanan. Jika salah satu populasi meningkat, maka akan terjadi kelebihan populasi yang mengakibatkan terganggunya proses siklus makanan, begitupun sebaliknya.

Namun pada kenyataannya, tidak semua manusia menerapkan sistem ini dalam kehidupan mereka. Di mana masih banyak yang mengabaikan pola relasi ini. Hal ini  bisa saja disebabkan beberapa hal di mana ada daerah yang sangat subur, dan juga ada daerah yang tandus sehingga persebaran bahan makanan pun tidak merata.

Seiring berjalanannya waktu, tingkat kebutuhan manusia mulai meningkat. Di mana kebutuhan tidak lagi mengenai pangan saja, melainkan kebutuhan sandang dan papan yang bahkan melebihi kebutuhan pangan itu sendiri.

“Tri Hita Karana”
Hari ini penulis membahas mengenai Tri Hita Karana. Kata ini diambil dari kitab Bagawad Gita (III.100 yang berarti pola relasi Manusia dan Tuhan, manusia dan manusia, dan manusia dengan alam). Pada kenyataannya pola yang sering terjadi adalah manusia selalu meningkatkan hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya manusia. Namun, melupakan hubungannya dengan alam. Hal ini akan saya kupas satu persatu.

Pertama Manusia dan Tuhan, pola hubungan antara manusia dan Tahun di beberapa tahun belakangan meningkat tajam. Hal ini disebabkan oleh beberapa tipe manusia. Tipe pertama, manusia yang benar-benar sadar bahwa keberadaannya di dunia ini karena Tuhan, sehingga Tuhan patut disembah.

Tipe kedua, manusia memamerkan hubungannya yang dekat dengan Tuhan untuk keuntungan (sosial dan ekonomi).  Tipe yang ketiga, manusia yang takut akan neraka dan memimpikan surga, sehingga mau tidak mau harus ber-Tuhan.

Kedua Manusia dan Manusia, pola hubungan ini tetap terjaga karena manusia saling membutuhkan diantara satu dengan yang lainnya. Saling membutuhkan ini bisa dalam berbagai bentuk, walaupun mereka sadar bahwa itu hanya sebatas hubungan saling membutuhkan. Bukan pada hubungan secara sadar tanpa embel-embel apapun.

Namun dalam hubungan saling membutuhkan tersebut terkadang masih banyak manusia yang serakah, mau menang sendiri dan sebagainya. Sebagai contohnya tingkat intoleransi, rasisme dan berbagai lainnya masih meningkat tajam di negara ini.

Ketiga Manusia dan Alam, pola hubungan ini tidak terjaga dengan baik karena manusia menempatkan alam sebagai bagian yang terus di ekploitasi untuk kebutuhan manusia dan tidak membiarkan alam untuk meremajakan dirinya kembali. Pemahaman ini dikenal dengan istilah egosentris atau antroposentris yang menempatkan manusia pusat dan yang lainnya adalah pendukung.

Masa pandemi Covid-19 seharusnya menjadi titik kesadaran kita sebagai manusia, bahwa Alam sedang meremajakan dirinya. Lihat saja buktinya dengan tingkat udara yang lebih bersih, berkurangnya hujan asam di China, tertutupnya kembali lapisan ozon dan sebagainya. Bukankah ini menjadi bukti bahwa alam punya cara sendiri menyelamatkan dirinya.

Penulis: Eliaser Wolla Wunga

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Dugaan Investasi Sapi Perah Bodong, Ratusan Masyarakat Kampar Menjadi Korban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *