Antara Kehendak Bebas dalam Pendidikan dengan Kekakuan Sistem Pembelajaran

Opini-Pendidikan menjadi salah satu bidang yang menjadi perhatian utama sebuah negara. Pendidikan merupakan suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan dibedakan antara pendidikan berdasarkan pengalaman hidup dan sekolahan (Erawati  2012).

Saat ini fokus penulis pada pendidikan sekolah. Karena proses pengembangan, penempaan dan pembelajaran seseorang berlangsung sebelum terjun dalam kehidupan masyarakat.

Penulis mengkonsepkan pendidikan pada contoh sederhana seperti film Wiro Sableng. Seorang hiro buatan indonesia yang dari sejak lahir hingga beranjak dewasa di tempa dengan pendidikan beladiri dan akhlak yang baik.

Hal ini  kemudian menjadi pedoman Wiro ketika dia pergi mengambara mencari jati dirinya sesungguhnya. Ketika dalam proses pengembaraan itulah dia berjumpa pendekar-pendekar dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Dalam proses inipun Wiro memilah dan memilih mana pendekar yang punya niatan jahat untuk dihancurkan dan mana pendekar yang patut dibela dan selalu bersama-sama.

Dalam pengembaraan panjang itu, Wiro kadang tidak mampu melawan para penjahat dan harus meminta bantuan sang guru untuk  menolongnya memberantas kejahatan.

Salah satu kritik saya terkait film itu adalah Wiro tidak bisa memilih kehidupannya sendiri. Namun dipilihkan kehidupan oleh orang yang menyerahkan kepada sang guru. Sehingga Wiro hanya menjalani  kehidupan yang sudah ditetapkan untuknya.

Namun sisi berhasilnya Wiro kemudian menghidupi nilai-nilai yang diturunkan oleh gurunya dan menjadi seorang pengembara yang terus menumpas kejahatan.

Kisah Wiro Sableng diatas jika di tarik dalam realitas pendidikan saat ini bisa menjadi sesuatu yang menarik. Pendidikan di indonesia tidak sesederhana kisah Wiro diatas, namun yang bisa menjadi perhatian kita adalah seharusnya lokus pembelajaran seorang peserta didik sudah diarahkan untuk memilih sesuatu yang menjadi keinginan dan kebutuhannya.

Proses ini bisa dilakukan terutama pada peserta didik yang sudah beranjak remaja karena dalam proses ini remaja berada pada fase masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Tentu dengan melibatkan perubahan di berbagai aspek kehidupan individu yang mencakup kematangan fisik/biologis, kognitif, dan sosioemosional. Proses biologis, kognitif dan sosioemosional saling terkait satu sama lain (Hurlock  1980).

Pendidikan juga harus diarahkan pada pengembangan karakter dan akhlak serta menciptakan proses belajar mengajar yang kreatif dan efektif. Sehingga peserta didik bisa bertumbuh dan berkembang pada karakter yang kuat. Dan ketika pada waktunya meninggalkan dunia pendidikan (sekolah), bisa membawa nilai-nilai yang sudah di dapatkan untuk diterapkan dalam dunia kerja dan masyarakat.

Selamat Hari Pendidikan

Penulis : eliaser wolla wunga

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Martin Ronaldo Pakpahan: Peran GMKI dalam Mengantisipasi Politik Intoleran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *