Alan Christian Singkali: Leimena dan Milenial

dr. Johannes LeimenaINDNEWS.ID-Republik ini berdiri dengan sumbangsih anak-anak bangsanya yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Latar belakang agama, etnis, warna kulit, dan ideologi. Hal ini terrekam dengan ragamnya pemuda yang memulai pergerakan nasional saat kebangkitan nasional 1908, sumpah pemuda 1928, sampai peristiwa proklamasi yang heroik di tahun 1945. Sebagai perwakilan umat Kristen, ada nama-nama yang berkontribusi sejak masa-masa sebelum kemerdekaan, walaupun hampir luput dari catatan sejarah. Sebut saja misalnya Jerobeam Matteus Jr., tokoh Rencono Budiyo (organisasi Kristen yang didirikan pada 1898 di Mojowarno, Jawa Timur), J. Bergmeyer, anggota Volksraad dari Christelijke Ethische Partij (CEP) sejak tahun 1918; Amir Sjarifoeddin, RCI Sendoek, dan Johannes Leimena (perwakilan Jong Bataks Bond, Jong Celebes, dan Jong Ambon pada Kongres Pemuda Kedua); bahkan Frans dan Alex Mendur, adik kakak wartawan Asia Raya yang mengabadikan peristiwa Proklamasi 17 Agustus.

Johannes Leimena, sepertinya adalah salah satu dari sekian yang kemudian bersinar melanjutkan tugas-tugas negara setelah merdeka. Sebagai perwakilan Jong Ambon yang berjiwa nasionalis beliau menghadiri Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tidak berhenti sampai disitu, beliau juga adalah salah satu pemuda yang pada mulanya ikut dalam diskusi-diskusi nasionalisme dan oikoumenisme bersama anggota Christen Studenten Vereeniging (CSV) di Kebon Sirih. CSV ini kemudian menjelma menjadi GMKI pada 9 Februari 1950, yang berselang tiga bulan kemudian beliau juga (lagi-lagi) membidani Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI/ yang berubah menjadi PGI). Kepribadian multi-talenta yang dimiliki oleh Johannes Leimena kemudian menjadi pertimbangan Presiden dan Perdana Menteri, untuk melibatkannya dalam kabinet. Johannes Leimena masuk dalam 18 kabinet berbeda sejak Kabinet Syahrir II (1946) sebagai Menteri Muda Kesehatan, sampai Kabinet Dwikora II (1966) sebagai Wakil Perdana Menteri II.

Spiritualitas Kebangsaan yang Nyata
Pidato Leimena saat peristiwa penggabungan CSV dengan PMKI pada tahun 1950, yang menjadi GMKI, adalah sebuah penegasan tentang bagaimana bangunan spiritualitas Kristen Indonesia. “Dwi-kewarganegaraan” sebagai warga negara Republik Indonesia yang sekaligus sebagai warga negara Kerajaan Allah, adalah fundamen warga gereja untuk memaknai spiritualitas nasionalismenya. Dalam buku Kewarganegaraan Yang Bertanggung Jawab, Leimena mengatakan bahwa bangsa adalah tempat di mana Tuhan mengutus kita untuk menjawab perintah-Nya, dengan demikian kita tidak boleh menjadi gedenationaliseerde individuen (individu yang tidak berbangsa) atau kosmopolieten. Namun di lain pihak Perjanjian Baru memperlihatkan suatu konsepsi mengenai bangsa yang dipengaruhi oleh perspektif eskatologis.

Kecintaan terhadap Tuhan-nya diwujudkan dengan kecintaan terhadap tanah air, bangsa, dan negaranya. Oleh karena itu tidak sedikitpun Johannes Leimena mau mengambil keuntungan pribadi dari pengabdiannya terhadap negara. Kualitas kerja terlihat karena keikhlasan yang muncul dalam pengabdian tersebut. Spiritualitas yang sama seharusnya menjadi lestari dalam kehidupan anak muda hari ini. Tidak peduli apa agama kita, namun penting untuk sungguh-sungguh mencintai Tuhan dengan mewujudkannya dalam hubungan terhadap bangsa terlebih terhadap sesama anak bangsa.

Fenomena milenial dan generasi Z yang lebih senang dengan yang praktis, berakibat pada sifat invidualisme. Hal ini mengancam persaudaraan ataupun kesetiakawanan nasional. Sebagian kelompok membangun spiritualitas sektarian yang semu. Menganggap orang lain yang tidak sekeyakinan adalah tidak berharga (kafir, pendosa, dan lain-lain). Anak-anak muda yang berparadigma positif membangun spiritualitas dengan semangat ‘bersesama’ (mengutip istilah Ishak Ngeljaratan). Semangat ini bermanfaat untuk melawan massifnya aksi intoleran yang lancarkan pihak-pihak tertentu. Salah satu contoh, buka puasa bersama di gereja yang dibuat bupati Jember, dan lain-lain.

Integritas Personal yang Mengakar
Sebagai seorang Menteri Kesehatan, dokter Johannes Leimena berhasil menggagas Bandung Plan pada tahun 1951. Konsep ini adalah sebuah tonggak perkembangan kesehatan masyarakat yang pada kemudian hari melembaga menjadi Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Daya kreasi ini lahir dari semangat kerja yang mengakar dalam kehidupan Johannes Leimena. Hal itu menjadi nyata ketika integritas sebagai buah spiritualitas diterapkan dalam kerja-kerja pengabdian. Sebuah tulisan di tirto.id berjudul “Johannes Leimena Orang Paling Jujur Di Mata Soekarno7”, memberikan gambaran tentang bagaimana Leimena menjaga integritasnya. Kejujuran Leimena itu yang membawanya diberi kepercayaan sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II dan tujuh kali menjabat acting president jika Soekarno ke luar negeri.

Lawan kata dari kejujuran adalah kebohongan, yang akhir-akhir ini sering kita temui sehubungan dengan mewabahnya fenomena post-truth. Kata lain yang lebih mutakhir adalah hoax dan fakenews yang menjadi makanan sehari-hari, seolah-olah tidak ada ruang lagi bagi integritas dan kejujuran (khususnya dalam berpolitik) di Indonesia. Menurut Scott McClellan dalam bukunya yang bestseller berjudul Kebohongan Di Gedung Putih, mengatakan bahwa:

“… menganut keterbukaan dan keterusterangan mengantarkan pada perubahan positif dan akuntabilitas internal. Di lingkungan yang terbuka, masalah tidak dapat disimpan di bawah karpet. Transparansi mendorong tindakan korektif, termasuk, bila perlu, menuntut pertanggungjawaban …”

Hal ini berarti bahwa dengan menjaga integritas, kejujuran, dan keterbukaan kita akan terus menerus menuju pada perubahan yang korektif terhadap individu ataupun lingkungan secara langsung maupun tidak langsung.

Pada tahun 2020 yang akan datang kita akan memasuki fase bonus demografi yang menjadi tantangan bagi angkatan kerja kita. Selain itu gelombang kehadiran generasi post-millenial (generasi Z), akan secepatnya menggeser generasi milenial yang lebih tua di dunia kerja. Mikro ekonomi zaman now yang biasa dikenal dengan start-up, telah banyak mempengaruhi generasi muda kita untuk lebih berani dalam berkreasi. Tidak jarang sekarang anak belasan tahun sudah melakukan perdagangan ekspor impor dengan menggunakan fasilitas internet yang lebih praktis. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa segala fasilitas yang berkembang hari ini bukan satu-satunya modal mereka menjalin kepercayaan dengan distributor, podusen atau konsumen. Mereka juga menanamkan integritas, kejujuran, dan keterbukaan untuk meraih peluang-peluang yang baik tersebut.

Profesionalitas yang Membudaya
Pada suatu waktu Johannes Leimena ditugaskan untuk masuk ke dalam tim yang mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam perundingan di atas kapal USS Renville milik Amerika Serikat. Tugas yang cukup penting ini diselesaikan dengan baik oleh delegasi-delegasi Indonesia. Seorang dokter desa yang terbiasa merawat orang sakit, harus siap untuk menjadi diplomat republik dalam sebuah perjanjian antar negara. Bahkan konon, Leimena meminjam jas dan dasi dari temannya untuk dipakai dalam pertemuan diplomatik tersebut. “Hanya untuk beberapa jam saja, aku akan mengatasinya. Jangan kuatir aku tidak akan bikin malu negara kita”, tegas Leimena. Bagi Leimena setiap tugas yang diberikan negara harus diselesaikan dengan baik.

Profesionalitas adalah kunci dari kesuksesan Johannes Leimena dalam banyak hal. Sebagai pendiri Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), Leimena selalu berkata: Politik bukanlah alat kekuasaan, tetapi ‘etika melayani’. Doktrin itu yang kemudian mengakar baik dalam jiwa kader-kader Kristen yang menjadikannya teladan, baik di GMKI, Parkindo, maupun di PGI. Leimena lebih jauh mencontohkan sinkronisasi profesionalitas dengan loyalitas. Loyalitas yang dimaksud adalah karena jabatan atau tanggung jawab yang diemban. Sebagai Waperdam II, Leimena tetap memberikan masukan-masukan kepada Presiden Soekarno walaupun posisi politik presiden sudah sangat melemah. Leimena tetap menjaga diri agar tidak mengikuti arus politik PKI ataupun Angkatan Darat pada saat itu, namun juga tidak meninggalkan Soekarno yang masih menyandang jabatan presiden. Oleh karena itu, Orde Baru tidak membencinya. Presiden Soeharto memintanya untuk menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada tahun 1973.

Gusdur pernah berkata, “tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu“. Mungkin quotes ini juga relevan dengan bagaimana seseorang harus menempatkan dirinya secara profesional di tengah lingkungan kerja. Profesionalitas yang membudaya akan menciptakan sistem yang adil (equal) bagi semua orang. Dewasa ini rekruitmen pada berbagai lembaga, baik organisasi, kantor, universitas, maupun jabatan publik lainnya, menjunjung tinggi profesionalisme. Semangat anti-KKN adalah salah satu kunci untuk mengedepankan kualitas yang bersumber dari profesionalisme tersebut. Bagi generasi milenial hari ini, persaingan tidak sehat, semisal kolusi dan nepotisme sudah tidak jaman lagi.

Meritokrasi sebagai Ideologi Leimena Masa Kini
Setiap manusia memiliki potensi dalam diri masing-masing. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang serupa dan segambar dengan-Nya (imago dei), setiap manusia memiliki keunikan yang dititipkan. Dalam perumpamaan tentang talenta, Yesus menggambarkan respon manusia berbeda terhadap karunia Tuhan tersebut. Ada yang memanfaatkannya sebaik mungkin, namun ada juga yang menyimpannya sehingga menjadi tak berguna.

Dengan keunggulan yang dimilikinya, manusia dapat memilih untuk memaksimalkan kemampuannya, bukannya menimbunnya hingga jadi tak berguna’. Dengan begitu setiap orang akan terdistribusi sesuai keahlian dan minatnya dalam ruang apa saja. Seorang wirausahawan muda suatu waktu bisa menjadi pengusaha besar, seorang debutan caleg suatu saat bisa jadi politisi handal, seperti Jokowi yang sukses jadi walikota Solo kemudian bisa jadi Presiden pada akhirnya. Semua itu karena sistem yang namanya meritokrasi, yaitu sebuah pola apresiasi yang diberikan kepada siapa saja, dalam ruang lingkup apa saja sesuai dengan prestasi dan keahliannya. Leimena yang unggul dalam spiritualitas, integritas, dan profesionalitas kemudian dipercaya untuk menjalankan berbagai tugas negara maupun sosial masyarakat, sampai akhir hayatnya.

Anak muda Indonesia hari ini, tidak peduli apapun suku, agama, warna kulit, ataupun paradigma berpikirnya, jika dia unggul dalam kepribadian dan prestasi, perlu diberi apresiasi. Baik dalam lingkup dunia kerja, organisasi, maupun jabatan publik. Dengan begitu kita menjamin masa depan setiap orang dapat terwujud dengan kerja keras masing-masing, bukan karena dia anaknya siapa.

Daftar Referensi:
1. Aritonang, Jan (2004). Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
2. Isnaeni, Hendri F (2015). 17-8-1945: Fakta, Drama, Misteri. Jakarta: Change.
3. Leimena, dr. J (1955). Kewarganegaraan Jang Bertanggung-Djawab. Djakarta: Badan Penerbit Kristen, Kwitang 22.
4. McClellan, Scott (2009). Kebohongan di Gedung Putih, Warisan Dosa-Dosa Bush dan Penggantinya (terj. Indonesia). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
5. Silaen, Victor dkk (2007). Dr Johannes Leimena: Negarawan Sejati & Politisi Berhati Nurani. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Bagikan!!!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca juga  Soal Pencatutan Logo, Cipayung Plus Sultra: Kami Tidak Pernah Dikonfirmasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *